Saya adalah Charlie Fineman di Reign Over Me. Saya tak mampu mengikatmu dengan kata-kata, dengan indah yang penuh...
My favorite flowers, and beach
Sometimes i felt like a naturist. I can stay for minutes just seeing the sunset, grass, and this one is my favorite....
Sudah pantaskah aku jadi laki laki, kalau berjanji saja masih suka ingkar.
Sudah pantaskah aku jadi laki laki, kalau cita cita saja...

tema playmix gigsonsky ( http://www.gigsonsky.com ) malam ini adalah 10 lagu pengiring...
Kalau ditanya adakah hal yang setia sama kamu selain Tuhan dan keluargamu? Jawabannya : Angkot. Yah,semenjak menyesali ketidakmampuan naik kendaraan apapun, saya menyadari bahwa kendaraan berwarna biru (di Malang warnanya biru) dengan inisial trayek 2-3 huruf itu benar-benar membantu saya.
Saya memang nggak terbiasa naik kendaraan umum. Kalaupun Papa tidak bisa mengantar-jemput pas jaman sekolah dulu atau tidak ada orang yang bisa ditebengin, saya pasti menempuh jalan ‘terakhir’ yaitu jalan kaki. Jalan kaki kan sehat, lagipula jarak rumah saya dengan sekolah-sekolah saya terdahulu sangat dekat. Cuma 5-10 menit bisa sampai di sekolah tepat waktu. Tapi kalau sekarang “Jalan kaki ‘kan sehat” dibuat alasan untuk ke kampus, rasanya saya mikir-mikir dulu deh. Yang ada sampai di kampus sudah keburu gempor dan mandi keringat dan menyebarkan aura negatif hahaha
Dan sejak kuliah inilah saya berkenalan dengan angkot. Sejujurnya, hampir 20 tahun,trayek angkot yang saya tahu Cuma 4 : AT (dari rumah ke rumah Mira, sahabat saya), LG dan JDM (buat ngampus,masuk dari Veteran) dan ASD (buat ke kampus, tepatnya ke unitas, masuk dari gerbang Soekarno-Hatta). Rutenya Cuma begitu-gitu aja. Soalnya saya sering paranoid salah arah dan tidak bisa kembali ke rumah. Tapi setidaknya 3 trayek angkot itu cukup memberi banyak pengalaman.
Entah kenapa, saya lebih suka duduk di depan, di samping pak Sopir yang sedang bekerja. Mungkin ngerasa lebih safe kali ya, daripada duduk di belakang, takut dijahatin orang (hahaha.. Paranoid ke-seribu dalam naik angkot). Gara-gara ini saya sering diajakin ngobrol sama Pak Sopirnya. Ngobrol ngalor-ngidul lah, sampai kadang saya bingung harus nanggepin apa. Pernah ada Pak Sopir yang bercerita tentang anak perempuannya yang pintar tapi nggak bisa nerusin ke jenjang universitas karena nggak ada biaya. Beliau ‘Cuma’ seorang sopir angkot, dan anaknya (kalau nggak salah) ada 4. Jadi harus bagi-bagi biaya untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan untuk pendidikan.
Pendidikan tidak menjamin pekerjaan di masa depan? Banyak orang bilang hal ini,tapi saya mendengar langsung dari orangnya. Ada pak Sopir yang waktu saya duduk di sampingnya, bercerita bahwa beliau dulu kuliah juga di Brawijaya, jurusan Pertanian kalau tidak salah, teman sekelasnya Pak Yogi (sekarang rector UB).Beliau pergi ke Jakarta setelah lulus. Niatnya mengadu nasib, tapi apa daya jalan hidup memang nggak bisa diatur sama manusia, beliau akhirnya berakhir menjadi sopir angkot. Sangat jauh dengan pendidikan yang ditempuh sebagai sarjana Pertanian. (Well, apapun pekerjaannya asal halal,tetap mulia di mata Tuhan kok. Kalau nggak ada orang seperti bapaknya, orang kaya saya bakal terus ngerepotin orang :p )
Di dalam angkot saya juga jadi menikmati lagu dangdut. Dangdut koplo, saudara-saudara. Ada juga yang muter lagunya Radja daramdamdararam. Tapi bukan 2 jenis music itu yang mengganggu konsentrasi saya, tapi selera pak Sopir yang nyetel lagu keroncong dan Gun’s and Roses! Hasilnya dalam perjalanan rumah-kampus yang rencananya mau dipakai buat belajar UAS, jadi tidak konsen saudara-saudara soalnya saya lebih konsen dengerin lagunya daripada belajar (alibi ke-seratus tigapuluh enam). Dan saya galau di angkot gara-gara pernah disetelin salah satu pak Sopir lagunya Phil Collins yang One More Night. Pasti pekerjaan lain dari pak Sopir-Phill-Collins itu adalah pemain band atau penyiar !
Beberapa hari yang lalu saya naik angkot jurusan Landungsari-Gadang, ceritanya mau ke kampus. Dan wow! Saya benar-benar baru sekali itu naik angkot yang bersih, bagus sekali. 
Tidak seperti angkot-angkot yang biasanya, angkot nomer 085 (Iya, dia mencantumkan nomor angkotnya) jurusan LG itu bersih, tempat duduknya dilapisi kulit imitasi warna biru. Musik yang diputar .. cukup okelah, Afgan dan RAN. Supirnya nggak ugal-ugalan dan …

angkot ini punya fire extinguisher! *amazed*!
Kalau semua angkot seperti ini, rasanya semua orang bakal dengan senang hati akan mau naik kendaraan umum, nggak bingung sama kendaraan pribadi dan kenaikan BBM :)
Di angkot juga sering ketemu orang aneh-aneh. Pernah ada yang ngeliatin saya terus dari pertama saya masuk angkot. Ngeri, takut dijahatin. Untung sudah dekat kampus, jadi saya buru-buru turun. Ada juga dua orang ABG yang heboh sendiri, ketawa-ketiwi sampai kakinya diangkat-angkat begitu (saya bingung, kenapa musti angkat-angkat kaki segala? Ah!). Ada juga kakek renta yang ngebuat saya merasa bersalah karena duduk di pojokan (Ah! Ini juga susah dijelaskan. Kehidupan dalam angkot itu kejam, Jendral!)
Di angkot juga ada kesalnya. Kalau ngetemnya lama, kalau kebut-kebutan sama angkot lain, kalau sopirnya ngadain arisan sama sopir yang lain sembari nyetir di jalan, kalau saya belum duduk tiba-tiba sudah digas kenceng-kenceng, kalau nunggunya kelamaan sementara saya udah ngantuk dan mendung.
Well, bagaimanapun keadaannya, saya tetap berterimakasih sama angkot. Orang-orang termarjinalkan seperti saya butuh angkot, meskipun angkot di Malang mahal sekali. Kalau nggak pakai seragam tarifnya 2500 rupiah. Denger-denger Kopaja nggak semahal ini. Pak Sopir juga pekerjaannya nggak kalah mulianya sama orang yang bekerja dalam gedung-gedung tinggi karena sudah mengantarkan orang sampai tujuannya.
Tapi, bentuk ucapan terimakasih saya kadang bikin shock :
Saya: (nyodorin duit duaribulimaratus) “Makasih, Pak!”
Bruuuuuuuuuuummm!! (Tancap gas, dikasih asap hitam)
(Bapaknya lagi kejar setoran #PositifThinking)
Kopi di teras rumah sudah kehilangan uapnya. Sama seperti diriku yang kehilangan daya menunggumu semalaman suntuk menahan kantuk. Kamu kemana, Mas? Tak bisa kuhubungi kamu, tak bisa kulihat senyummu di pancaran purnama itu. Kamu bilang, akan bawakan martabak manis untuk si Manis kita yang tengah tertidur lelap di ruang tengah. Aku tak lagi menginginkan martabak manis, aku hanya ingin mendengar gemeretak kayu reyot pintu gubuk sederhana kita, tanda kepulanganmu.
Mas, pulanglah dengan diantar semilir angin dan suara burung hantu yang seakan mengajak berkelakar, memecah gelisah.
Aku capek bertanya dan menerka.
Segera pulanglah, karena kau adalah muara bahagiaku.
08.00
Malam kemarin kamu akhirnya pulang, Mas. Sukacita kehadiran ragamu tak diiringi dengan jiwamu. Aku lunglai dan kosong, Mas. Kamu yang gagah memelukku erat, kini biru-biru lebam yang memelukmu erat.
Si Manis meminum air tajin dari dotnya, menelan kepahitan yang tak dia pahami.
Di kantongmu, segepok lembaran merah dan biru menjadi jawaban. Mengapa kau lakukan, sedangkan Tuhan pun sudah bilang Ia tak suka kau lakukan itu.
Sudahlah, aku tak perlu lagi menanyakan dan menyalahkan. Terkaanku tentang harum parfum wanita, tidak terbukti adanya.
Kaulah orang yang berjuang agar Manis tak menjadi orang-orang seperti kita.
Hari ini hari terakhir janjimu musti kau tepati pada Bu Saromah, Kepala Sekolah si Manis. Janjimu yang harus kautepati, kini telah kau penuhi. Tak ada lagi ingkar, yang ada hanyalah sisa haru, tangis dan miris.
Terimakasih atas cintamu, Mas, padaku dan pada Manis. Selamat jalan.
Hampir separuh dari kehidupan saya sehari-hari, saya habiskan dengan mempercayai dunia 140 karakter alias Twitter. Kangen sama teman yang ada di Australia, langsung mention. Ingin tahu update informasi terbaru dari artis favorit saya, Andre Harihandoyo, semudah melihat timelinenya (padahal saya tidak kenal sama dia), distribusi pesan tugas angkatan pun lewat Twitter. Pernah suatu ketika saya bingung mau makan siang di mana sama teman-teman, dan salah satu dari antara kami ‘nyeletuk’ “Liat @malangkuliner dong!”.
Ah, Twitter ini sudah mengubah siklus hidup saya. Bahkan urusan hidup saya kadang lebih saya percayakan sama Twitter. Baca berita-berita di pagi hari, juga sepenuhnya saya serahkan pada update-an dari akun-akun “@…com”. Kalau nggak muncul dari timeline mereka, berarti itu nggak aktual. Kalo nggak muncul di trending topic, berarti kurang membahana. Jadilah, saya bukan generasi yang aktif mencari ada apa dengan dunia saat ini. Emang bener kalau The SIGIT bilang, di salah satu lirik lagunya bahwa “We are the noodle generation”. Generasi yang instan, usahanya garing kayak kacang kulit, dan parahnya … “surrender”. Karena dunia new media sudah mendulang bayi dengan bubur yang nikmat.
Dulu waktu SMA saya masih setiap hari ke perpustakaan karena perpustakaan SMA Dempo tergolong sangat terlalu hobi langganan berbagai macam majalah dan koran, jadi waktu itu saya dapat asupan yang cukup buanyaaaak dari baca-baca setiap harinya. Toh waktu masa SMA gempuran media online tidak senabok sekarang. Tapi, berhubung keluarga saya sudah tidak lagi langganan koran, maka otomatis berita-berita yang saya dapatkan hampir 95% dari media online. Apalagi akses internet di rumah saya 24 jam dengan saya seorang diri sebagai penggunanya, memudahkan sekali bagi saya untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan dari dunia luar rumah saya.
Tapi di sinilah ada yang mengubah kebiasaan saya, khususnya kebiasaan membaca. Kalau dulu waktu masih sering baca koran (bener-bener koran secara fisik dari kertas), saya bakal membaca suatu berita samapi habis. Memang, saya kategori orang yang kalau baca koran pilih-pilih. Bacanya cuma seputar politik, seni budaya. teknologi dan semacam itu. Tapi ketika baca judulnya, saya pasti akan baca sampai tuntas meskipun disuruh bolak-balik halaman lompat sana-sini buat cari sambungan beritanya. Sekarang? Ketika akun @blablabladotcom mempost twit yang berupa judul berita disertai link yang akan mengantar pada berita selengkapnya, saya sudah merasa tahu berita itu secara menyeluruh HANYA DENGAN BACA JUDULNYA SAJA! Wah hebat dong Wind? Ah, yang hebat itu yang ngepost twitnya ‘kali. Hanya dengan judul yang kadang tidak sampai 140 karakter itu, audience sudah bisa mempersepsi isi berita itu.
Konvergensi media sudah membuat nyaman manusia modern masa kini. McLuhan bilang ‘kan bahwa media adalah perpanjangan indera, memudahkan manusia untuk mendengar yang terjadi di Iran, melihat apa yang terjadi di Aceh dll. Di tengah tuntutan hidup yang tinggi, banyak melakukan aktivitas di luar ruangan dengan tingkat mobilisasi yang ‘wow’, maka media yang punya kemampuan untuk memberikan akses informasi cepat, singkat dan padatlah yang kemudian memenangkan rimba pertarungan ini. Well, akses informasi yang cepat dan singkat? Okelah. Padat? Kadang saya tidak yakin. Ketika kepincut dengan satu tweet yang merupakan judul suatu berita, kemudian mengklik link yang mengikutinya, seringkali saya mbatin “Halah, ternyata cuma gini isinya..”. Beritanya tidak sefenomenal judulnya. Lantas, ini jualan judul apa jualan berita? Isi beritanya pun, kadang hanya 2-3 paragraf dengan logika berpikir yang terpisah-pisah. Entah mungkin karena karakteristik internet yang aksesnya cepat,maka para jurnalis online ini berlomba-lomba antara satu dotcom dengan yang lain untuk mengedepankan kecepatan berita tetapi melupakan kedalaman berita itu. Saya musti lompat dari satu link ke link yang lain untuk mendapat logika berita yang utuh.
Tadi pagi saya datang kepagian ke kampus kemudian iseng-iseng pinjam koran ke mas-mas CS. Hampir 1 jam saya habiskan pagi tadi sebelum masuk kelas dengan membaca koran Jawa Pos. Rasanya benar-benar ada sesuatu yang berbeda antara membaca koran yang benar-benar koran dengan berita akun @dotcom-dotcom yang biasanya saya konsumsi. Baca koran bikin saya langsung merasa “Oh gitu toh..” dalam satu tempo, tidak perlu lompat ke sana kemari lagi dalam tautan-tautan yang seringkali menipu (iya, masuk ke link advertorial -_____-). Dan lagi, berita yang saya dapatkan itu menyeluruh !
Baca berita ala Twitter memang mengantar kita ke suatu informasi, tapi informasi yang bagaimana? Sejauh yang saya rasakan memang baca berita lewat Twitter itu sering terjerumus, apalagi cuma melihat judulnya saja. Belum lagi ada orang-orang iseng yang suka meReWrite suatu tweet kemudian meReTweetnya, dan kemudian diReTweet lagi sama orang lain begitu seterusnya dan akhirnya sampai ke timeline kita.
Yah, tulisan saya ini memang sangat subyektif dan tidak solutif karena saya cuma pengen berbagi perasaan saja. Kalau dosen-dosen saya bilang sih, makanya kita sebagai penikmat produk media mestinya punya banyak referensi dalam memandang suatu berita, biar tidak terjerumus. Saya jadi bingung nih, saya ini mahasiswa Komunikasi, nggak kurang kurang deh dikasih pengetahuan tentang media literasi, juga tahu kalau media itu bagaikan setannya setan, tapi kok masiiih aja kena dibodohi? Hemm kayaknya musti ngulang mata kuliah Komunikasi Massa atau beli buku Mass Media for Dummies nih (atau saya yang perlu menulisnya? :P)
Suatu malam, Mopi sedang makan malam bersama keluarganya. Di meja makan
tersedia banyak makanan. Ada ayam goreng, sup sayur, pudding.. Wah, semuanya tampak enak!
Ibu Mopi menuangkan sup sayur ke mangkok makanan Mopi dan meletakkan secentong nasi dan sepotong ayam goreng ke atas piring Mopi. Mopi melahap ayam gorengnya dengan lahap. Nyam.. Nyam.. Nyam.. Tapi Mopi tidak menyentuh nasinya sama sekali.
“Mopi, ayo nasinya dimakan juga,” kata ibunya. “Nanti nasinya menangis kalau tidak kamu makan. Sup sayurnya juga dihabiskan ya.”
“Ah, Mopi nggak mau, Ibu. Mopi nggak suka sayur, nggak enak.”
“Mopi harus habiskan sayurannya supaya Mopi sehat.”
Mopi diam saja. Ia selalu menyisihkan sayuran di pinggir piringnya karena ia tidak suka sayuran.
Ketika ibunya pergi ke dapur, diam-diam Mopi beranjak dari duduknya, membawa mangkuk supnya dan menuangkan isinya ke tempat sampah kemudian bergegas kembali ke tempat duduknya. “Ah, yang penting Ibu melihat isi mangkuk sup sayurku habis,” ujar Mopi dalam hati.
Malam hari, Mopi tertidur di kamarnya. Seharian bermain membuatnya lelah.

“Di mana ini?” ujar Mopi dalam hati. Kamarnya berubah menjadi sebuah hutan yang gelap. Sepi, tidak ada siapapun kecuali dirinya. “Ibu? Ibu dimana?”
Tidak ada sahutan.
Mopi terus berjalan ke selatan berbekal dua ekor kunang-kunang sebagai penerang jalannya. Tiba-tiba Mopi mendengar sebuah suara yang menangis tersedu-sedu, “Huhuhuhuhu…”
“Halo, aku Mopi, mengapa kamu menangis?” Tanya Mopi.
Ternyata yang menangis adalah sebuah Kacang Polong. “Aku sedih, seseorang tidak menyukaiku. Ia menyisakan aku di piringnya sewaktu makan malam tadi.”
“Wah jahat sekali dia,” ujar Mopi. “Siapa yang membuatmu sedih?”
“Namanya Mopi.”
Wusssh! Tiba-tiba kacang polong itu menghilang. Mopi kembali melanjutkan perjalanannya. Langkahnya terhenti ketika ia menemui sesosok yang duduk membelakanginya. “Halo, kamu siapa? Mengapa kamu duduk sendirian di sini?”
“Aku Wortelina. Aku tersesat di sini. Seseorang membuangku ke tempat sampah yang bau dan gelap. Seharusnya aku tidak di tempat ini, tapi Mopi yang membuatku berada di sini.”
Mopi terkejut. Wortelina? Jangan-jangan Wortelina berasal dari mangkuk sayur yang dibuangnya tadi sewaktu makan malam.
Mopi mundur beberapa langkah dari tempatnya ketika ia merasa ada tepukan keras di pundaknya. “Berhenti! Kamu Mopi kan?”
Dua bongkah Kubis tampak marah. Mereka mencengkeram pundak Mopi kuat. “Kamu yang membuang kami ke tempat sampah ‘kan?”
“I-iya,” Dengan terbata-bata Mopi menjawab.
“Kamu tahu, ibumu susah payah membuat makanan yang lezat untukmu! Tetapi kamu malah membuang kami ke tempat sampah!”
“Mopi harus menghabiskan makanannya!!” Sebuah suara yang berasal dari belakang Mopi, berteriak. Ternyata Wortelina, Kacang Polong, Nona Seledri dan teman-temannya yang lain, bergerak mendekati Mopi dengan marah. “Tangkap Mopi!”
Mopi berlari dari mereka, secepat mungkin yang ia bisa. Hutan tampak gelap dan ia ketakutan. “Tolong! Tolong aku! Aku berjanji akan menghabiskan makanankuuuu!”
Tiba-tiba Mopi terbangun. Ia gembira melihat Ayah dan Ibunya berdiri di samping tempat tidurnya. “Jangan takut, Mopi. Kami akan bersamamu dan kamu akan segera lupa dengan mimpi burukmu.”
Mopi tertidur lagi dan keesokan paginya ia merasa lebih baik.
Ketika makan pagi, ia melahap semua makanan di atas piringnya dengan penuh semangat. Bahkan sayur-sayuran yang selama ini dibencinya, semua habis tak ada sisa. “Terimakasih, Ibu, sudah menyiapkan makanan yang lezat buat Mopi,” kata Mopi sambil mencium pipi ibunya. “Mulai sekarang Mopi mau menghabiskan makanan Mopi. Semuanyaaaa!”
Ia tidak mau lagi kembali ke Hutan Makanan yang menyeramkan. Sejak saat itu, Mopi selalu menghabiskan makanan di piringnya tanpa sisa sedikitpun.
(via l-aserbeams)
Karena mamaku bisa melakukan semua pekerjaan wanita ini *sigh*. Bukan bukan sebetulnya alasannya bukan itu juga sih. Saya pernah kena semprot guru kesenian saya pas SMA karena bikin apapun kerajinan tangan selalu hasilnya gagal. Di SMA Dempo ada kerajinan khas yaitu membatik. Gagal. Gerabah, di saat sekelas menjadikan sebuah karya dengan aduhai, punya saya satu-satunya yang dibakar lalu pecah. Kata guru saya : “wedok kok cekelan’e gitar tok ae, gak iso kerjoan’e wedok”(perempuan kok megang gitar aja, nggak bisa pekerjaan perempuan).
Sebetulnya bukan nggak bisa sih, tapi belum telaten. Tapi seiring berjalannya waktu nih:
Mungkin saya musti belajar dalam jangka waktu yang panjang. Tapi saya pasti bisa kok jahitin baju-baju yang bagus, merajut sweater syal topi hangat, masakin masakan yang enak, motong rambut dengan gaya teroke dan ngobatin orang-orang di sekitar saya. Kira-kira 3-5 tahun lagi saya pasti bisa melakukan semua itu dengan PERFECT sebagai perempuan sejati *tsah* :D
Ah, ini postingan sungguh klise. Berbuat sesuatu yang berguna buat orang lain? Moralis gak sih ini judulnya? Yaaah, yang pasti memang saya pengen melakukan sesuatu yang bisa menjadikan seseorang yang awalnya ‘gak bisa’ jadi bisa. Bukannya mau bermaksud pamer kepandaian, tapi saya cuma pengen berbagi. Kalau suatu hari orang yang awalnya gak bisa, jadi bisa bahkan lebih baik dari saya, itu suatu kepuasan.
Saya pengen jadi orang yang sukses, dan sukses itu juga dibagi buat orang lain. Sudah bemilyar-milyar kali banyaknya saya kesulitan dan dibantu sama orang lain, dan juga nggak jarang kadang membutuhkan sesuatu tidak ada yang bantu. Ah itu sedih banget lho rasanya :’)
Mungkin dimulai dari hal kecil ya? Pijitin temen yang lagi suntuk gitu kali ya? :p
Saya pengen bikin perpustakaan dan sekolah kreatif buat adik-adik TK deh :)
Ave Maria Gratia Plena!

Saya pengen punya lahan pertanian di dekat kaki gunung, buat menanam kentang, kol, wortel, buncis. Tidak jauh dari situ, dibangun peternakan ayam, sapi, babi dan kelinci. Kemudian memproduksi susu, telur, sayuran sendiri dan bisa mempekerjakan orang-orang di sekitar lahan itu. Ya ya ya, memang saya musti mempekerjakan orang lain karena saya sama sekali tidak punya basic ilmu untuk bertani dan beternak.
Kemudian Papa berkomentar : “Oh.. Kamu mau jadi tukang sayur?”
.. karena bisa bermain piano dan biola itu sungguh ‘klasik’! :)